Ketika Politik Dikendarai Para Pengusaha

4 Jun 2012

gambar diambil dari google

gambar diambil dari google

Kegalauanku terhadap urusan yang selama ini malas aku bicarakan akhirnya mulai terpancing, ketika tiap hari harus dijejali dengan iklan-iklan politik yang ada di depan mataku.

Kalau cuma dilihat dari sisi luarnya saja, maka yang terlihat adalah topeng-topeng cantik yang telah dipoles sedemikian rupa dengan gambar atau figur-figur menarik sebagai pengalih perhatian dari isi yang sesungguhnya.

Demi memuluskan bisnisnya mereka memilah dan memilih sosok untuk dijadikan topeng atau lebih cocok disebut bidak-bidak caturnya, mereka menggaet dan menempatkan beberapa komponen bangsa, khususnya elit-elit politik yang gila kekuasaan.

Keadaan pemerintah yang memang sedang belajar demokrasi dijadikan peluang untuk memainkan perannya dengan membeli “saham” yang sedang naik daun dan memanfaatkan pasar yang sedang ramai mencari sesuatu yang dianggap “sesuai harga rakyat” [dibaca: Merakyat].

Beberapa tokoh yang terlihat nasionalis dijadikan barang dagangan oleh si pengendali pasar.

Kalau dulu mereka hanya duduk di belakang meja saja, tetapi dikarenakan semakin ramainya persaingan pasar, sekarang ini sebagian dari mereka memilih ikut terjun langsung ke kancah politik. Bagi pemerhati yang jeli, tentunya hal ini terlihat lebih transfaran karena mereka pun bersosialisasi dengan kendaraan politik yang dibiayainya atau bahkan telah dibelinya.

Negara mereka anggap sebagai pasar yang memiliki nilai investasi tinggi. Apa sebenarnya tujuan para pengusaha itu? Benarkah semua itu demi jayanya negeri ini?

Kalau memang pandangan kepada suatu negeri yang makmur itu dapat dilihat dari banyaknya pengusaha yang sukses, lalu pandangan apa yang dapat digambarkan dari suatu negeri yang rakyatnya selalu menuntut keadilan?

Ah, entahlah… kenapa aku menuliskan hal ini, aku harap semoga tulisan ini suatu saat hanya menjadi kenangan saja.


TAGS Politik Pengusaha


-

Author

Follow Me